Kamis, 23 Mei 2013

Gagal itu meninggalkan Pelajaran, Sukses itu meninggalkan jejak,
Diam tidak bertindak meninggalkan Penyesalan.

PERMOHONAN



Yaa ......ALLOH ...
Hati saya ini terasa lebih kotor dari kotoran,
maka tolonglah saya untuk terus berusaha membersihkannya.
Sampai nanti, bahkan sampai mati.
~~ لا إله إلا الله محمد رسول الله

S3T4N6KUP H45R4T.


 
 
 
 
 
 Anganku mencakar satya langit.
Menggebu hasrat dari bilur bilur malam,
atas pesan tentang kehidupan,
walau ada yang beku di antara kami,
Bersama rintik-rintik yg tersisa,
Bergelantungan luruh di pucuk" dedaunan,
Mengentas lelah tak terungkap,
Jalari jejak membilang takdir,
Dan kepasrahan lebih menyegarkan,
Dengan setangkup harap bertengadah,
Membuahi ketabahan di penghujung akhir kalimah,
Tuk lenggang berteduh di batas perjalanan,
Menuju kesejatian rasa.

NIKMATNYA 1/3 MALAM

 
Pada 1/3 Malam,
Kukunci diri dalam ruang sesal,
Sunggingkan malu,Akui sejuta khilaf.
Ku coba beningkan hati & sisipkan permohonan,
Kubiarkan dedaunan tertidur dalam keheningan gelap pelita.
Kugetarkan Bibirku membisikan kata-kata pujian,
Yg ku sadur dari kitab-Nya.
---------------------------------------------menikmati 1/3 malam.

Senin, 20 Mei 2013

MENDUNG KELABU TAK KAN MAMPU MERUBAH SEBIRUNYA LANGIT.



Dalam Segerombol mendung yg tak bertetes,
Tersibak rasa sukma dalam lelaku Sakral,
Selampir kisah yang cukup helakan nafas terdalam,
Tergambar haru dan gembira yang se akan menyerang,
diantara raga rasa haru rindu yang kian membiru,
Di saat linangan yg harus kupendam,
Akan ku jadikan lautan dengan pribadi yang siap melaju,
demi satu tujuan untuk tetap berjuang disaat merapuh,
Walau terseok penuh raungan.
Hingga ada yg memelukku penuh kehangatan.

Jumat, 03 Mei 2013

KALBUKU SATU DALAM SUJUD.

 
 
Lantunan ayat2NYa, getarkan sukma ,
Munajatpun panjat memanjat,
Keyakinan menghadap lalu bergerak menyantap,
Dan Nikmat bukan sekedar Niat,
Bergetar raga sukma memandang tak berserat,
Bercumbu dengan bait bait dalam tangisan pinta,
Dalam sujud hati setegak Alif mengakar kuat,
mecengkeram bumi segera kembali,
Faham hakikat hidup kemudian meredup.
Maknai akan kembali pada asal jiwa pulang,
Tak terjangkau galah sejengkal pikiran,
Sebab sujud sembah adalah hidup rahasia terwujud.

EMBUN PENANTIAN TETES BUTIRAN KASIH


Ahhhhhhh, kata itu membingkai fikiran dalam kepala,
Berdengung dalam tetabuhan genta waktu yg terus melaju,
Menusuk tembus cakram kehidupan,
Berputar pada poros lebih yg tajam dari sebuah pusaran,
Melingkari hidup yg kadang suntuk, lesu, tanpa gairah, pasrah,
Menelungkupkan diri di kolong langit, yg kadang menjerit,
Menengadahkan tangan ke segala arah, pun pada siapa menangis,
Sedang Tuhan bukan sekedar tempat mengemis,
Lalu dihujani bermacam pemintaan....yg kadang begitu konyol,
ketika disuguhkan do'a-do'a; disetiap pagi, siang, sore, dan malam,
yang selalu menekan puncak keinginan,
mengharap sejuta pengabulan di ujung penantian,
sebagai makhluk serakah ...
menelan bumi sekedar memproduksi kotoran.

RAUNGAN RENUNG.


sekedar siang yang menghilang diantara ketenangan malam,
malam yang penuh goda sepanjang jalan,
Namun malam begitu nikmat bersanding kopi,
hitam, pekat, sepekat perjalanan yang lengket dengan berbagai persoalan,
pahit, sepahit malam jalan melintang, segelap hidup dikecap juga nikmatnya,
tapi sendiriku berkawan akrab dengan tembakau-tembakau galak,
siap merombak sebagian dari jalan pikiran,
pada kesunyian mengadu,
semua kata terkumpul dalam jala pemikiran,
dengan raung renung pengalaman,
Aku diam, menyantap semua rasa.
Sepahit hidup terkekang, senikmat lidah mengecap,
tatapan gelap menggeliat adalah “ujian bagi kami pemangku indera'.

PEDANG ASMARADANA.


Usaha ku mencari kunci dengan sejalannya masa,
Kuterbius dalam lara dan terpenjara dalam Rasa,
Merengek mencari tahu memaksa secuil pinta,
Apakah linangan cinta ini kau terima dng lapang dada ?
gaduh setengah kehendak kaki menginjak,
bumi begitu basi berlendir puisi,
selaksa bulan kehilangan warna,
seperti riak jeram berpaut keras,
tak bersisa, meninggalkan hening dan bening,
lalu, siapa lagikah yang menghadirkan ceria di kala senyap...?
Dan aku bercermin mawaskan diri,
Mencari cahaya semilir tahta,
Dan kutemui pedang jelma kupanggul,
isyarat pinta kepadamu, bunuhlah aku dg pedangku,
Tapi jangan kau bunuh aku dengan Cintamu,
begitulah kata adalah senjata.

T. R. E. N. Y. U. H


Acapkali hati getarkan rasa,
Menuntun angan dalam pencarian,
Mengharap kasih datang kepelukan,
Bawa melayang jauh ke awan kenikmatan,

Kerap Bibir hati keluhkan rasa,
Landaikan ingin merajang sukma,
Raga beku kelamkan qolbu,
Tenggelamkan ingin dalam angan2ku,

Hasrat pilupun meredam di jiwa,
Ringkih dalam tetapan rindu cinta,
Walau jarak jadi pengganjal,
Lirih hati tetap merindu,

RUANG KOSONG DISEKITAR DADA.


Terjaga aku berkawan tengah malam,
Masih berselimut dingin dan menghitung angan,
Kupeluk kaki di sudut tempat tidur
Jika aku teringat kamu,aku tak bisa tidur bagai anak hilang ,
Kembali kukumpulkan puing kehidupan yg berserakan,
Di atas figura hati kususun kembali bongkahan demi bongkahan,
Berusaha membentuk pelangi dalam kegelapan.
Dan tanyaku...........
Kapan kita habiskan malam berdua dengan nyata..???

NYANYIAN SUKMA.


Dicelah celah angin malam,
disebalik tabir ketenangan,
diantara kelopak suka dan duka,
kau tetap penyumbang inspirasiku,
terkutip satu persatu,
berderai penuh isi perasaan,
jelma-an rasa yg disulam jadi cinta,
dan sepertinya waktu yg bisa merawat.
dan pintaku.......
mohon jangan pergi, sampai aku mati..

SENI KEHIDUPAN.


Ialah tertawa dan duka adalah seni kehidupan,
Dibingkai oleh takdir, terlukis oleh kuas Sang Maha Kuasa,
di atas ketidak sempurnaanku,
kuberusaha tulis hidup dengan cinta,
ku rangkai dengan kasih sayang,
dan ku lukis dengan ketulusan hati tiada henti.
ku pijakkan langkahku di bumi yang tak bertepi,
serasa tak pernah terhenti meski dawai waktu kian menjepit.

GELANDANGAN JUGA MANUSIA ( MENGGALI JANJI YG SUBUR TERKUBUR).

 
 Emperan toko, memapahku dalam khayalan,
Menangkap fatamorgana dari sisa mereka yang Punya,
Tak ada pilihan untuk berduka, terasa kecil untuk ditakutkan,
Atau hanya memasukkan data-data diri.... lalu di lepas lagi…
Berdetak tanpa kata-kata, meski hitungan bertaruh dgn sukma,
Akan serupa jejak pada saatnya......hanya ingin diberi leluasa,
Karena Gelandangan juga manusia ..............

tubuh-tubuh sepi meranggas, matang dalam cuaca,
menggali janji-janji yang terkubur subur.

PAGI YANG BASAH


Hujan tak reda mulai semalam hingga menggandeng pagi,
Tetap Semangat pagi walau hujan di luar.
Yang sakit semoga segera diberi Kesembuhan,
Yang bekerja hari ini semoga dimudahkan & dilancarkan,
Yang menuntut ilmu hari ini semoga dipahamkan.
Yang sedih smoga cepet mendapat kebahagiaan.

Sejenak ku merangkak,
membuka terompah tabir yang mulai koyak,
namun sejengkal ku masih berharap,
temukan penerang yang kan datang.....?